Aliran Wahabisme dan Ajarannya
Lahirnya ajaran Wahabi konon telah
diramalkan oleh Muhamad sebagai Khawarij (Pemberontak). Dr. Abdullah Mohammad Sindi membahas tentang hal ini secara panjang lebar dalam tulisannya.
Pencetus pertama kali sebutan
nama Wahabi adalah seorang bernama Mr. Hempher. Konon dia adalah mata-mata kolonial
Inggris yang ikut secara aktif menyemai dan membidani kelahiran sekte Wahabi. Tujuannya adalah untuk
menghancurkan kekuatan ajaran Islam dari dalam, dengan cara menyebarkan isu-isu
kafir-musyrik dan bid’ah.
Dengan fakta ini maka
terbongkarlah misteri sikap Wahabi yang keras permusuhannya kepada kaum
muslimin yang berbeda paham. Itulah sebabnya kenapa ajaran Wahhabi penuh
kontradiksi di berbagai lini keilmuan, dan kontradiksi itu akan semakin jelas
manakala dihadapkan dengan paham Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja).
Walaupun begitu, ironisnya
mereka tanpa risih mengaku-ngaku sebagai kaum Aswaja.
Sejak kapan Wahabi berubah jadi Ahlussunnah
Waljama’ah?
Pertanyaan itu
muncul karena mereka memakai baju Ahlussunnah Waljama’ah, sehingga ciri
khas ke-wahabiannya tidak menjadi samar.
Untuk lebih jelas dalam
mengenali apa, siapa, kenapa, dari mana Wahabi, sebaiknya kita terlebih dulu
mengetahui latar belakang sejarahnya.
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Saudi Arabia dan Paham Wahabi
Dr. Abdullah Mohammad Sindi*, di dalam sebuah artikelnya yang berjudul : 'Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud' menyajikan tinjauan ulang tentang sejarah Wahabisme, peran Pemerintah Inggris di dalam perkembangannya, dan hubungannya dengan peran keluarga kerajaan Saudi.
“Salah satu sekte Islam yang paling kaku dan paling reaksioner saat ini adalah Wahabi,” - Dr. Abdullah Mohammad Sindi
Sementara itu, Wahabi
adalah ajaran resmi Kerajaaan Saudi Arabia. Wahabisme dan keluarga Kerajaan
Saudi telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sejak kelahiran
keduanya.
Wahabisme-lah yang telah
menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Saud membalas jasa itu
dengan menyebarkan paham Wahabi ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian kita kembali diingatkan bahwa: 'One could not have existed
without the other' – (sesuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang
lainnya).
Wahhabisme memberi legitimasi
bagi Istana Saud, dan Istana Saud memberi perlindungan dan mempromosikan
Wahabisme ke seluruh penjuru dunia.Keduanya tak terpisahkan,
karena keduanya saling mendukung satu dengan yang lain dan kelangsungan hidup
keduanya bergantung padanya.
Tidak seperti negeri-negeri
Muslim lainnya, Wahabisme memperlakukan perempuan sebagai warga kelas tiga,
membatasi hak-hak mereka seperti: menyetir mobil, bahkan pada dekade lalu
membatasi pendidikan mereka.
Juga tidak seperti di
negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme :
- Melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
- Melarang kebebasan berpolitik dan secara konstan mewajibkan rakyat untuk patuh secara mutlak kepada pemimpin-pemimpin mereka
- Melarang mendirikan bioskop sama sekali
- Menerapkan hukum Islam hanya atas rakyat jelata
- Membebaskan hukum atas kaum bangsawan, kecuali karena alasan politis
- Mengizinkan perbudakan sampai tahun ’60-an.
Mereka juga menyebarkan
mata-mata atau agen rahasia yang selama 24 jam memonitor demi mencegah
munculnya gerakan anti-kerajaan. Wahabisme juga sangat tidak toleran terhadap
paham Islam lainnya, seperti terhadap Syi’ah dan Sufisme (Tasawuf).
Wahabisme juga menumbuhkan
rasialisme Arab pada pengikut mereka. Tentu saja rasialisme bertentangan dengan
konsep Ummah Wahidah di dalam Islam. Wahhabisme juga memproklamirkan bahwa
hanya dia saja-lah ajaran yang paling benar dari semua ajaran-ajaran Islam yang
ada, dan siapapun yang menentang Wahabisme dianggap telah melakukan bidah dan kafir!
Lahirnya Ajaran Wahabi
Wahhabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad 18 di Dir’iyyah sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd. Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab (1703-92).
Laki-laki ini lahir di Najd, di
sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang
fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu
bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak.
Sebelum menjadi seorang
mubaligh, Ibn Abdul-Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan untuk
keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria,
Irak, Iran, dan India.
Walaupun Ibn Abdul-Wahhab
dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggris-lah yang
membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn
Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan
Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki.
Seluk-beluk dan rincian tentang
konspirasi Inggris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam
memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy”
Selagi di Basra, Iraq, Ibn
Abdul-Wahhab muda jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang mata-mata Inggris
yang dipanggil dengan nama Hempher yang sedang menyamar (undercover), salah
seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri Muslim (di Timur
Tengah) dengan tujuan menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan menciptakan
konflik di antara sesama kaum Muslim.
Hempher menjadi
seorang Muslim, dan memakai nama Muhammad, dan melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dalam waktu yang
relatif lama.
Hempher, yang memberikan Ibn
Abdul-Wahhab uang dan hadiah-hadiah lainnya, mencuci-otak Ibn Abdul-Wahhab
dengan meyakinkannya bahwa: Orang-orang Islam mesti dibunuh, karena mereka
telah melakukan penyimpangan yang berbahaya, mereka – kaum Muslim – telah
keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, mereka semua telah melakukan
perbuatan-perbuatan bid’ah dan syirik.
Hempher juga membuat-buat
sebuah mimpi liar ('wild dream') dan mengatakan bahwa dia bermimpi Nabi
Muhammad Saw mencium kening (di antara kedua mata) Ibn Abdul-Wahhab, dan
mengatakan kepada Ibn Abdul-Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan
meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari
berbagai bid’ah dan takhayul.
Setelah mendengar mimpi liar
Hempher, Ibn Abdul-Wahhab jadi ge-er ('wild
with joy') dan menjadi terobsesi, merasa bertanggung jawab untuk melahirkan
suatu aliran baru di dalam Islam yang bertujuan memurnikan dan mereformasi
Islam.
Di dalam memoarnya, Hempher
menggambarkan Ibn Abdul-Wahhab sebagai orang yang berjiwa “sangat tidak stabil”
(extremely unstable), “sangat kasar”
(extremely rude), berakhlak bejat (morally depraved), selalu gelisah (nervous), congkak (arrogant), dan dungu (ignorant).
Mata-mata Inggris ini, yang
memandang Ibn Abdul-Wahhab sebagai seorang yang bertipikal bebal/dungu (typical fool), juga mengatur pernikahan
mut’ah bagi Ibn Abdul Wahhab dengan 2 wanita Inggris yang juga mata-mata yang
sedang menyamar.
Wanita pertama adalah seorang
wanita beragama Kristen dengan panggilan Safiyya. Wanita ini tinggal bersama
Ibn Abdul Wahhab di Basra. Wanita satunya lagi adalah seorang wanita Yahudi yang
punya nama panggilan Asiya. Mereka menikah di Shiraz, Iran.
Kerajaan Saudi-Wahhabi Pertama : 1744-1818
Setelah kembali ke Najd dari
perjalanannya, Ibn Abdul-Wahhab mulai “berdakwah” dengan gagasan-gagasan
liarnya di Uyayna. Bagaimana pun, karena “dakwah”-nya yang keras dan kaku, dia
diusir dari tempat kelahirannya.
Dia kemudian pergi berdakwah di
dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata
Inggris lainnya yang berada dalam penyamaran ikut bergabung dengannya.
Dia juga tanpa ampun membunuh
seorang pezina penduduk setempat di hadapan orang banyak dengan cara yang
sangat brutal, menghajar kepala pezina dengan batu besar. Padahal, hukum Islam
tidak mengajarkan hal seperti itu, beberapa hadis menunjukkan cukup dengan
batu-batu kecil.
Para ulama Islam (Ahlus Sunnah)
tidak membenarkan tindakan Ibn Abdul-Wahhab yang sangat berlebihan seperti itu.
Walaupun banyak orang yang menentang ajaran Ibn Abdul-Wahhab yang keras dan
kaku serta tindakan-tindakannya, termasuk ayah kandungnya sendiri dan
saudaranya Sulaiman Ibn Abdul-Wahhab, – keduanya adalah orang-orang yang
benar-benar memahami ajaran Islam -, dengan uang, mata-mata Inggris telah
berhasil membujuk Syeikh Dir’iyyah, Muhammad Saud untuk mendukung Ibn
Abdul-Wahhab.
Pada 1744, al-Saud
menggabungkan kekuatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dengan membangun sebuah aliansi
politik, agama dan perkawinan.
Dengan aliansi ini, antara
keluarga Saud dan Ibn Abdul-Wahhab, yang hingga saat ini masih eksis,
Wahhabisme sebagai sebuah “agama” dan gerakan politik telah lahir! Dengan
penggabungan ini setiap kepala keluarga al-Saud beranggapan bahwa mereka
menduduki posisi Imam Wahhabi (pemimpin agama), sementara itu setiap kepala
keluarga Wahhabi memperoleh wewenang untuk mengontrol ketat setiap penafsiran
agama (religious interpretation).
Mereka adalah orang-orang
bodoh, yang melakukan kekerasan, menumpahkan darah, dan teror untuk menyebarkan
paham Wahabi (Wahhabism) di Jazirah Arab.
Sebagai hasil aliansi
Saudi-Wahhabi pada 1774, sebuah kekuatan angkatan perang kecil yang terdiri
dari orang-orang Arab Badui terbentuk melalui bantuan para mata-mata Inggris
yang melengkapi mereka dengan uang dan persenjataan.
Sampai pada waktunya, angkatan
perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar yang pada akhirnya
melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Damaskus (Suriah), dan
menjadi penyebab munculnya Fitnah Terburuk di dalam Sejarah Islam (Pembantaian
atas Orang-orang Sipil dalam jumlah yang besar).
Dengan cara ini, angkatan
perang ini dengan kejam telah mampu menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab
untuk menciptakan Negara Saudi-Wahhabi yang pertama.
Sebagai contoh, untuk
memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai syirik dan bid’ah yang dilakukan
oleh kaum Muslim, Saudi-Wahhabi telah mengejutkan seluruh dunia Islam pada
1801, dengan tindakan brutal menghancurkan dan menodai kesucian makam Imam
Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad Saw) di Karbala, Irak.
Mereka juga tanpa ampun
membantai lebih dari 4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta
yang mereka bawa sebagai harta rampasan. Sekali lagi, pada 1810, mereka, kaum
Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa di sepanjang Jazirah Arab.
Mereka menggasak dan menjarah
banyak kafilah peziarah dan sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk 2 kota
suci Makkah dan Madinah. Di Makkah, mereka membubarkan para peziarah, dan di
Madinah, mereka menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi, dan
menjual serta membagi-bagikan peninggalan bersejarah dan permata-permata yang
mahal.
Para teroris Saudi-Wahhabi ini
telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan kaum Muslim di
seluruh dunia, termasuk Kekhalifahan Utsmaniyyah di Istanbul. Sebagai penguasa
yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab dan penjaga masjid-masjid
suci Islam, Khalifah Mahmud II memerintahkan sebuah angkatan perang Mesir
dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahhabi.
Pada 1818, angkatan perang
Mesir yang dipimpin Ibrahim Pasha (putra penguasa Mesir) menghancurkan Saudi-Wahhabi
dan meratakan dengan tanah ibu kota Dir’iyyah. Imam kaum Wahhabi saat itu,
Abdullah al-Saud dan dua pengikutnya dikirim ke Istanbul dengan dirantai dan di
hadapan orang banyak, mereka dihukum pancung.
Sisa klan Saudi-Wahhabi
ditangkap di Mesir.
Kerajaan Saudi-Wahhabi Ke-II : 1843-1891
“Walaupun kebengisan fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada 1818, namun dengan bantuan Kolonial Inggris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman mati atas Imam Abdullah al-Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi-Wahhabi memandang saudara-saudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang sesungguhnya dan sebaliknya mereka menjadikan Inggris dan Barat sebagai sahabat sejati mereka."- Dr. Abdullah Mohammad Sindi
Maka ketika Inggris menjajah
Bahrain pada 1820 dan mulai mencari jalan untuk memperluas area jajahannya,
Dinasti Saudi-Wahhabi menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh perlindungan
dan bantuan Inggris.
Pada 1843, Imam Wahhabi, Faisal
Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo dan kembali ke
Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggris.
Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggris ('British Political
Resident') di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman.
Pada 1851, Faisal kembali
memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggris. Dan hasilnya, Pada 1865,
Pemerintah Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk mendirikan
sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggris dengan perjanjian
(pakta) bersama Dinasti Saudi-Wahhabi.
Untuk mengesankan Kolonel Lewis
Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahhabi, Imam Faisal mengatakan
bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahhabi antara perang politik dengan
perang agama:
Nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua orang.
Pada 1866, Dinasti
Saudi-Wahhabi menandatangani sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah
Kolonial Inggris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena
kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.
Perjanjian ini serupa dengan
banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggris atas
boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan: Teluk
Persia).
Sebagai pertukaran atas bantuan
pemerintah kolonial Inggris yang berupa uang dan senjata, pihak Dinasti
Saudi-Wahhabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianat dengan pemerintah
kolonial Inggris yaitu: pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah
kolonial Inggris atas area yang dimilikinya.
Perjanjian yang dilakukan
Dinasti Saudi-Wahhabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan Islam (yaitu :
Inggris), pihak Dinasti Saudi-Wahhabi telah membangkitkan kemarahan yang hebat
dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam
maupun yang di luar wilayah Jazirah Arab.
Dari semua penguasa Muslim,
yang paling merasa disakiti atas pengkhianatan Dinasti Saudi-Wahhabi ini adalah
seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan pada
1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki, al-Rasyid menyerang Riyadh lalu
menghancurkan klan Saudi-Wahhabi.
Bagaimanapun, beberapa anggota
Dinasti Saudi-Wahhabi sudah mengatur untuk melarikan diri; di antara mereka
adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz.
Dengan cepat keduanya melarikan
diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggris, untuk mencari perlindungan dan
bantuan Inggris.
Kerajaan Saudi-Wahhabi Ke III (Saudi Arabia): Sejak 1902
Ketika di Kuwait, Sang Wahhabi, Imam Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz menghabiskan waktu mereka “menyembah-nyembah” tuan Inggris mereka dan memohon-mohon akan uang, persenjataan serta bantuan untuk keperluan merebut kembali Riyadh.
Namun pada akhir penghujung
1800-an, usia dan penyakitnya telah memaksa Abdul-Rahman untuk mendelegasikan
Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi Imam
Wahhabi yang baru.
Melalui strategi licin kolonial
Inggris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat menghancurkan
Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara menyeluruh,
kolonial Inggris langsung memberi sokongan kepada Imam baru Wahhabi Abdul-Aziz.
Dibentengi dengan dukungan
kolonial Inggris, uang dan senjata, Imam Wahhabi yang baru, pada 1902 akhirnya
dapat merebut Riyadh.
Salah satu tindakan biadab
pertama Imam baru Wahhabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror
penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota.
Abdul-Aziz dan para pengikut
fanatik Wahhabinya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati. Imam
Wahhabi Abdul-Aziz yang dikenal di Barat sebagai Ibn Saud, sangat dicintai oleh
majikan Inggrisnya.
Banyak pejabat dan utusan
Pemerintah Kolonial Inggris di wilayah Teluk Arab sering menemui atau
menghubunginya, dan dengan murah-hati mereka mendukungnya dengan uang, senjata
dan para penasihat.
Sir Percy Cox, Captain
Prideaux, Captain Shakespeare, Gertrude Bell, dan Harry Saint John Philby (yang
dipanggil “Abdullah”) adalah di antara banyak pejabat dan penasihat kolonial
Inggris yang secara rutin mengelilingi Abdul-Aziz demi membantunya memberikan
apa pun yang dibutuhkannya.
Dengan senjata, uang dan para
penasihat dari Inggris, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat
menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahhabisme untuk
mendirikan Kerajaan Saudi-Wahhabi ke-3, yang saat ini disebut Kerajaan Saudi
Arabia.
Ketika mendirikan Kerajaan
Saudi, Imam Wahhabi, Abdul-Aziz beserta para pengikut fanatiknya, dan para
“tentara Tuhan”, melakukan pembantaian yang mengerikan, khususnya di daratan
suci Hijaz.
Mereka mengusir penguasa Hijaz,
Syarif, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Pada Mei 1919, di Turbah,
pada tengah malam dengan cara pengecut dan buas mereka menyerang angkatan
perang Hijaz, membantai lebih 6.000 orang.
Dan sekali lagi, pada bulan
Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar, tentara Saudi-Wahabi
mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif, mengancam mereka, mencuri
uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala anak-anak kecil dan
orang-orang yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur dengan raung tangis
dan takut kaum wanita.
Banyak wanita Taif yang segera
meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan dan pembunuhan yang
dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahhabi yang bengis. Tentara primitif
Saudi-Wahhabi ini juga membunuhi para ulama dan orang-orang yang sedang
melakukan shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan
tanah; tanpa pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka
temui di jalan-jalan; dan merampok apa pun yang dapat mereka bawa. Lebih dari 400 orang tak
berdosa ikut dibantai dengan cara mengerikan di Taif.
Jejak Wahabisme di Indonesia
Banyak orang-orang yang belajar
Wahabisme (seperti di Jakarta di LIPIA) yang menjadi para pemuja syekh-syekh
Arab, menganggap bangsa Arab lebih unggul dari bangsa lain. Mereka (walaupun
bukan Arab) mengikuti tradisi ke-Araban atau lebih tepatnya Kebaduian (bukan
ajaran Islam), seperti memakai jubah panjang, menggunakan kafyeh, bertindak dan
berbicara dengan gaya orang-orang Saudi.
Snouck Hurgronje, seorang Belanda yang telah belajar lama di Saudi Arabia dan menjadi ulama Saudi datang ke Indonesia dan menyebarkan keyakinan bahwa
hadis Cinta pada Tanah Air adalah lemah (hubbul wathan minal iman). Upayanya cukup berhasil di beberapa tempat:
Nasionalisme bangsa Indonesia hancur. Banyak pengkhianat bangsa bermunculan.
Kunjungannya Raja Arab Saudi ke
Indonesia baru-baru ini tak seharusnya disambut secara berlebihan. Terlebih kunjungan ini
hanya sekedar mengumbar janji-janji manis, seperti investasi triliuan rupiah,
kuota haji dan berbagai transaksi lainnya. Selama ini janji itu sudah sering
diungkapkan, dan terakhir pada pertemuan G-20 di China, Pangeran Mohammed yang
bertemu dengan Presiden Jokowi saat itu berjanji akan menambah kuota haji dan
investasi jutaan dolar di Indonesia. Namun, janji tinggallah janji.
Sambutan menjelang kedatang
Raja Salman bin Abdulaziz juga dianggap berlebihan. Apalagi lembaga
eksekutif negara seperti DPR harus berbena dan menyiapkan jalur khusus untuk
penyambutannya. Selain itu, Masjid Istiqlal pun tidak mau kalah dengan DPR.
Selain menyiapkan jalur khusus, mereka juga menyiapkan parkir dan menutup
Istiqlal selama kunjungan ke Masjid itu.
Layakkah kita menyambut seorang
yang bukan raja bagi 250 juta lebih penduduk Indonesia? Pantaskah kita
menyambut raja yang telah menumpahkan darah lebih dari 12.000 warga sipil di
Yaman, menyebabkan krisis kemanusiaan akut dan menyebabkan kehancuran perumahan
penduduk, fasilitas umum, gedung-gedung sekolah, pemerintah dan pusat-pusat
perbelanjaan?
Kunjungan Raja Salman tidak
lebih dari sekedar plesiran, pesta pora, menghambur-hamburkan uang dengan
membawa duit triliyuan rupiah, menyewa pantai dan hotel-hotel mewah. Bahkan
media-media Barat sudah sering membongkar liburan raja-raja Saudi dan para
pengeran dengan kemewahan dan pesta seks. Semua ini jauh dari nilai-nilai
kesederhanaan yang diutamakan Islam. Bahkan sangat tidak pantas raja yang
menyandang ‘khadimul kharamain’ menghambur-hamburkan uang di saat kemiskinan,
pengangguran, krisis ekonomi dan langkah penghematan di berlakukan di
negaranya. Apalagi tempat yang didatangi adalah tempat bule-bule telanjang.
Raja Arab liburan, itu
manusiawi semua orang butuh piknik biar otaknya nggak kejang, tapi mengapa
pilih Bali yang budayanya jauh 180 derajat? Karena bali ada Pantai dan nyiur
melambai. Mungkin Raja jenuh dengan pemandangan syar’i di gurun pasir, sekali
kali mau jadi anak pantai. Lagipula temannya orang Amerika sering cerita soal
keindahan Bali, sehingga beliau karena belum pernah kesana, maka saat liburannya betul dimanfaatkannya untuk memuaskan syahwat plesirannya.
Selain plesiran, Raja Arab juga
akan menyantuni Densus 88, sehingga mereka bisa aman selama berkunjung. Demikianlah para ningrat Arab ini menerapkan politik "Tatmi’ (Arab; "mengenyangkan lawan") karena Densus dianggap penghalang terbesar bagi gerakan
radikal Wahabi di Indonesia.
Jika diperhatian, mereka yang gembira akan
kedatang raja adalah para politisi PKS dan kaum radikal wahabi. Ketua PBNU pernah mengatakan bahwa gerakan radikal
wahabi di Indonesia hidup dari dana-dana Arab Saudi.
Kalo Raja Arab mau beneran
berlaku adil, mengapa sampai sekarang:
- Raja Arab belum membayar santunan korban ketimpa crane waktu ibadah Haji yang lalu
- Raja Arab tidak segera memberi santunan korban salah Bom di Yaman
- Raja Arab menyokong kelompok pemberontak di Suriah kepada pemerintahan yang sah
- Arab tidak pernah berlaku keras terhadap Israel atas penjajahan Palestina?
Bagi para Aswaja, kiranya menjadi cukup jelas bahwa:
Arab itu hanya sebuah negara.
Arab bukan Islam, Islam bukan Arab.
Arab itu hanyalah kumpulan Muslim dan Muslimah dengan budaya Arabnya.
Pertanyaan menggelitik berikutnya ialah:
- Mengapa Kaum Islam Indonesia tidak percaya diri menjadi Muslim/ah Nusantara?
- Jika memang Islam adalah amanat universal rahmatan lil alamin, mengapa justru sesama muslim pun saling meng-kafir-kan?
- Mengapa banyak umat Islam di Indonesia memuja budaya Arab dan meninggalkan budaya adiluhung Nusantara?
- Mengapa banyak umat Islam di Indonesia yang hendak mengganti Pancasila dan UUD 1945, dasar ideologi dan konstitusi Indonesia dengan ideologi padang gurun yang sudah jelas-jelas tidak sesuai dengan konteks Indonesia yang plural?
Maka, jika Anda melihat aksi-aksi seperti di gambar-gambar di bawah ini, hendaknya Anda mampu berfikir dan mengerti maksud dari tulisan ini.
*****
Dr. Abdullah Mohammad Sindi adalah seorang profesor Hubungan Internasional (professor of International Relations) berkebangsaan campuran Saudi-Amerika.
Dia memperoleh titel BA dan MA-nya di California State University, Sacramento, dan titel Ph.D.-nya di 'the University of Southern California'. Dia juga seorang profesor di 'King Abdulaziz University' di Jeddah, Saudi Arabia. Dia juga mengajar di beberapa universitas dan college Amerika termasuk di : 'the University of California' di Irvine, 'Cal Poly Pomona, Cerritos College, and Fullerton College'. Dia penulis banyak artikel dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggris.
Bukunya antara lain: 'The Arabs and the West: The Contributions and the Inflictions.'



Komentar
Posting Komentar